Minggu, 16 Oktober 2011

PEMUDA DALAM BINGKAI BUDAYA INDONESIA

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika "keselarasan individu dengan alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memeroleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
            Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Pemuda memiliki semangat untuk berubah dan kemampuan untuk melakukan perubahan. Hal ini yang menjadi peran paling penting dari pemuda. Jika kita melihat kembali sejarah Indonesia, kita akan melihat begitu dominannya peran pemuda dalam melakukan perubahan. Dimulai dari kebangkitan nasional 103 tahun silam, sumpah pemuda yang menjadi cikal bakal persatuan Indonesia, kemerdekaan republik Indonesia, lahir dan tumbangnya orde baru serta lahinya orde reformasi. Sejarah mengatakan tanpa pemuda negeri ini tidak akan menikmati kemerdekaan dan terus menerus hidup dalam ketidakadilan.
Perubahan menjadi indikator suatu keberhasilan terhadap sebuah gerakan pemuda. Perubahan menjadi sebuah kata yang memiliki daya magis yang sangat kuat sehingga membuat gentar orang yang mendengarnya, terutama mereka yang telah merasakan kenikmatan dalam iklim status quo. Kekuatannya begitu besar hingga dapat menggerakkan kinerja seseorang menjadi lebih produktif. Keinginan akan suatu perubahan melahir sosok pribadi yang berjiwa optimis. Optimis bahwa hari depan pasti lebih baik.
Problematika pemuda yang terbentang di hadapan kita sekarang sungguh kompleks, mulai dari masalah pengangguran, krisis mental, krisis eksistensi, hingga masalah dekadensi moral. Budaya permisif dan pragmatisme yang kian merebak membuat sebagian pemuda terjebak dalam kehidupan hedonis, serba instant, dan tercabut dari idealisme sehingga cenderung menjadi manusia yang anti sosial.
Sehingga muncul pertanyaan, apakah masih relevan pemuda dikatakan sebagai agen perubahan di masa saat ini? tentu saja jawabannya adalah ya! masih ada pemuda-pemuda Indonesia yang peduli dengan bangsanya. Tinggal bagaimana caranya agar pemuda lainnya bisa turut berkontribusi untuk perubahan bangsa Indonesia.
Belakangan ini beberapa pemuda yang telah lama terlelap dalam budaya hedonisme mulai menguak dan menggeliat dalam perhatianya pada kebudayaan nusantara. Tentunya perubahan ini sangat positif dan perlu disambut baik oleh berbagai macam pihak. Dengan begitu, gayung pun bersambut. Apabila perantara ini telah ada dan siap melakukan tugasnya, maka bisa diibaratkan neurotransmitter dalam sel otak yang menghantarkan impuls sel saraf dalam otak agar mendapat tanggapan berupa aksi. Hal ini tentunya tidak bisa hanya dilakukan oleh beberapa pemuda saja melainkan diperlukan seluruh pemuda untuk bersatu.
Marilah teman-teman pemuda sekalian. Sesuatu yang besar telah menanti kita jika pemuda bersatu. Dengan upaya dan cucuran keringat, kita lestarikan budaya nusantara, kita gaungkan budaya kita ke seluruh jagad raya. Percayalah bahwa pemuda, bisa! “pemuda berbudaya?” kenapa tidak? Sebagai seorang pemuda Indonesia sejati tentunya akan merasa bangga dengan keragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Rasa bangga saja tentunya belumlah cukup, perlu upaya dan sumbangsih teman-teman pemuda sekalian agar budaya nusantara tetap lestari dan menjadi tuan rumah di rumah sendiri. Jangan sampai budaya kita yang adi luhung diklaim lagi oleh Negara-negara lain. Maka dari itu pemuda Indonesia, Bersatulah! Pedulilah! Dan lestarikanlah budayamu! Karena budayamu,  itulah identitasmu.
http://matapena.blogspot.com/2011/06/pemuda-dalam-bingkai-budaya-indonesia.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar